Entri Populer

Jumat, 18 Februari 2011

Lompat Batu Tradisi Nias


Lompat Batu Tradisi Nias

16-05-2008 01:38

Kabupaten Nias adalah salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di pulau Nias. Dengan Ibukota Gunungsitoli. Kabupaten Nias memiliki andalan pariwisata tersendiri selain Rumah adat dan Tari perang yaitu Tradisi Lompat Batu atau Fahombo yaitu tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter.
Konon ajang tersebut diciptakan sebagai ajang menguji fisik dan mental para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap lelaki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya tak kurang 2 (dua) meter dengan lebar 90 centimeter (cm) dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.
Selain sebagai penguji fisik dan mental bagi pemuda yang berhak mengikuti perang, Tradisi Fahombo ini juga dinilai sebagai syarat bagi mereka yang siap menikah, karena bagi mereka yang tidak berhasil melompati batu tersebut dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis. Begitu terkenalnya tradisi lompat batu ini membuat tradisi ini pernah diabadikan pada pecahan uang seribu rupiah pada awal tahun 1990-an dengan gambar seorang pria Nias yang sedang melompati tugu batu.













Pencarian

Bola Nafo

Kisah Awuwukha Pemburu Kepala

Saturday, April 26, 2008
By nias
Victor Zebua
Lima generasi yang silam di Börönadu hidup seorang pemberani bernama Awuwukha. Dia berhasil membawa pulang belasan kepala manusia. Usaha para musuhnya balas-dendam membunuh Awuwukha tidak pernah berhasil. Hal tersebut mengangkat status Awuwukha di mata orang-orang kampung sebagai emali (pemburu kepala).
Demikian secuplik kisah Awuwukha dalam tulisan lepas Jajang A. Sonjaya di blognya. Tulisan lepas itu berjudul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”, mengacu bab “Mangani Binu: Tradisi Memburu Kepala” di buku “Melacak Batu Menguak Mitos Petualangan Antarbudaya di Nias” (Sonjaya, 2008). Selanjutnya diceritakan titah Awuwukha di masa tuanya.
“… Awuwukha mengajukan permintaan pada anak-anaknya, bahwa jika ia meninggal nanti, ia minta ditemani oleh lima orang. Seorang untuk menyiapkan minum, seorang untuk membuat sirih pinang, seorang untuk meladeni makanan, seorang untuk menjaga, dan seorang lagi sebagai tukang pijat. Permintaan itu ditutup oleh Awuwukha dengan mengerik kuku jempolnya menggunakan pisau (ono nekhe). Itu berarti bahwa permintaannya harus dipenuhi oleh anak-anaknya. Itu berarti si anak harus mencari lima kepala untuk bekal kubur ayahnya yang disebut binu.”
Isi kutipan di atas mungkin menuntun penulisnya memilih judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur”. Elemen ‘bekal kubur’ dalam judul itu teringkari sendiri oleh kisah Awuwukha di episode ‘membawa pulang belasan kepala manusia’ sebagai perolehan balas-dendam karena rumah ibu Awuwukha sebelumnya dibakar oleh pemilik kepala itu. Artinya, binu sesungguhnya tidak hanya untuk tujuan eskatologis semata, juga untuk hasrat manusia di alam fana ini.
Sulayman melaporkan bahwa tahun 851 pengayauan terkait prasyarat kawin pria Nias (Fries, 1919: 53; Cole, 1931: 201; Hämmerle, 2001:14). Binu perlu untuk bangunan rumah, gelar bangsawan, atau penyambutan pengantin putri (Zebua 2006: 105). Binu juga perlu bagi salawa (kepala kampung) atau bangsawan yang mengadakan owasa (pesta jasa), sebagaimana ditulis Harefa (1939: 89) berikut.
“Pada zaman poelau Nias itoe tidak dibawah Perintah Goebernemen, ia menjoeroeh orang mengajau [mengambil kepala] pihak moesoehnja. Orang jang pergi mentjahari kepala itoe, diseboet sanocho dan kepala jang didapatnja itoe diseboet binoe. Binoe setelah dapat ditanamkan dekat batoe kehormatannja [Gowe Zalawa] dimoeka roemah.”
Mangai Högö
Pengayauan disebut mangani binu oleh Sonjaya, namun banyak orang Nias mengenalnya möi ba danö alias mofanö ba danö alias möi emali alias mangai högö. Istilah lainnya fa’emali, yaitu ‘memenggal kepala (mangai högö) antara yang tidak sepuak’ (Zebua, 1996: 10). Seribu tahun yang silam hati para saudagar Arab ciut saat mendengar kebiasaan mangai högö ini, sehingga mereka tunggang-langgang meninggalkan daratan Nias kembali ke kapalnya (Anitei: 2007).
Di lain pihak, acapkali orang menafsirkan bahwa orang Nias kuno antropofag (pemakan orang). Misalnya Masashi (2005: 43) menulis “In the tenth century, Ajä’ib al-Hind described the people between Fansur (present day Barus) and Lambri and those in Kedah and the island of Nias as cannibals.” Namun, berdasar tulisan Schröder, Hämmerle (2001: 15) berkesimpulan bahwa orang-orang Nias memang memenggal kepala orang, tetapi tidak memakan orang.
Praktek mangai högö terjadi pada zaman Nias kuno, berlangsung hingga kedatangan misionaris Jerman ke Nias (Laiya, 1980: 16). Hal itu dilakukan para pihak yang kuat secara finansial, karena berkaitan dengan owasa yang mahal. Judul “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” terasa kurang pas bila tidak dipahami dalam konteks ‘tempo doeloe’ dan ‘orang Nias tertentu’. Yang dapat diterima secara historis adalah elemen ‘memburu kepala’. Efek generalisasi dan bias informasi dari tulisan lepas Sonjaya bisa timbul akibat pemilihan judul yang kurang pas.
Kisah Awuwukha di tulisan lepas, mungkin karena silaf, telah kehilangan sebuah ‘kalimat kunci’ sehingga potensial mengganggu pemahaman pembacanya. Di buku sumber tertulis kalimat “Cerita tersebut bisa jadi telah mengalami distorsi hingga jauh dari kenyataannya.” (Sonjaya 2008: 68). Di tulisan lepas kalimat tersebut tak dijumpai. Kalimat itu merupakan pengakuan bahwa validitas kisah Awuwukha perlu ditingkatkan. Pembaca tulisan lepas yang tidak membaca buku sumber bisa bias menilai kisah Awuwukha.
Untuk meningkatkan validitas kisah Awuwukha agaknya daya triangulasi perlu optimal digarap. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan yang memanfaatkan hal lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu (Moleong, 1994: 178). Kisah Awuwukha didapat dari ‘ingatan beberapa orang saja dari generasi tua di Börönadu’ (Sonjaya, 2008: 68). Artinya, masa hidup Awuwukha ‘lima generasi yang silam’ didapat dari ingatan informan. Mengapa data tersebut tidak dikonfirmasi pada sura nga’ötö (silsilah keluarga)?
Contoh ini diangkat karena dengan memeriksa sura nga’ötö, 32 tahun lalu Thomsen (1976: 40) berhasil mengidentifikasi masa hidup Awuwukha ‘enam generasi sebelumnya’. Dihitung sekarang, Awuwukha versi Thomsen hidup bukan lima generasi, tapi tujuh generasi yang silam.
Selanjutnya ‘batu-uji’ kisah Awuwukha adalah mengetahui ‘kisah di balik berita’ dari titah Awuwukha meminta binu saat kematiannya. Apa makna binu sebagai bekal kubur? Benarkah binu untuk menyiapkan minum, membuat sirih pinang, meladeni makanan, menjaga, dan menjadi tukang pijat Awuwukha di alam baka? Maka sampailah peneliti pada eskatologi Nias. Sebagai triangulasi, Laiya (1980: 56) menulis satu versi eskatologi Nias.
“Ada satu bagian dari upacara penguburan zaman lampau yang telah ditinggalkan kini yaitu famaoso dola* (pengangkatan tulang-tulang kembali). Upacara ini biasanya berlaku bagi kaum bangsawan. Kepala orang yang diambil waktu expedisi pengayauan dari daerah lain akan ditempatkan di kuburan bangsawan itu pada saat famaoso dola. Upacara ini menggambarkan pandangan eskatologi suku Nias. Ada pandangan di Nias yang mengharapkan bahwa orang mati itu akan bangkit kembali atau akan terjadi kelahiran kembali. Pandangan ini tidak hanya hidup di bagian Tengah Nias – seperti yang dicatat oleh Suzuki, tetapi juga di Selatan Nias. Hal ini jelas nampak pada waktu penempatan kepala orang di kuburan di mana mereka mengatakan: (Inilah kepala) ‘yang akan membuatmu bangkit’. Praktek ini tidak diteruskan lagi sementara fungsi penanaman kepala orang dikuburan diganti dengan upacara fanano buno (penanaman bunga).”
Lompat Batu
Paragraf terakhir dari tulisan lepas “Orang Nias – Mereka Memburu Kepala untuk Bekal Kubur” mengandung banyak informasi yang boleh jadi benar adanya. Informasi itu kurang-lebih: Börönadu nyaris kalah populer ketimbang Bawömataluo, Bawömataluo mudah diakses dunia luar, leluhur Bawömataluo berasal dari Börönadu, orang Bawömataluo cukup kreatif, orang Kristen seratus tahun lalu melarang tradisi memburu kepala, inisiasi seorang lelaki Nias dalam melompati batu, dahulu memburu kepala untuk menunjukkan kelakian dan membangun status. Kemudian ditarik kesimpulan “… Jadi, lompat batu yang menjadi ciri khas Nias sekarang ini sesungguhnya relatif baru dan hanya terdapat di sebagian kecil kampung di Nias….
Paragraf terakhir tersebut terkesan ‘sarat-muatan’. Paling tidak, ada dua hal dapat dijadikan wacana. Pertama, memburu kepala sebagai ‘bekal kubur’ (dalam judul tulisan lepas) atau ‘menunjukkan kelakian dan membangun status’ (dalam paragraf terakhir)? Paragraf terakhir ini mengingkari judulnya dan relatif sulit ditelusuri hubungannya dengan kisah Awuwukha.
Kedua, uraian perihal lompat batu relatif terbatas sehingga sulit dipahami hubungan antara kesimpulan dan tema yang dipikul judul. Konon dahulu lompat batu merupakan latihan bagi para pemuda untuk dipersiapkan bila terjadi peperangan antar kampung (Manao, 1978; Zebua, 1981). Lompat batu juga merupakan syarat mutlak bagi anggota tim ekspedisi pengayauan, bahkan menjadi salah satu ritus dalam fondrakö wamunu niha (Hämmerle, 1995: 229-230).
Kembali ke Awuwukha sebagai ‘pemburu kepala’, menarik untuk diketahui pandangan emik (orang Nias) zaman sekarang atas mangai högö tempo doeloe. Para peneliti dapat menelusurinya di lapangan. Namun dialog singkat dua putra Nias, Yupiter Bago dan M.J. Daeli, dalam artikel Moyo (2007) di situs Yaahowu dapat dipakai sebagai cermin.
“Produk budaya megalitik Nias justru lebih banyak ditopang oleh tradisi sawuyu dan binu, ketimbang tradisi gotong royong. Banyak Omo Sebua, misalnya, didirikan dengan tenaga sawuyu, menyembelih sawuyu, memenggal kepala ‘kepala tukang’-nya, bahkan menyajikan beberapa butir kepala (binu zimate) yang didapatkan lewat ekspedisi ‘moi badano’ ke banua (kampung) lain. Monumen batu produk pesta owasa, untuk mencapai derajad balugu misalnya, juga disertai binu. Bahkan ada pula tradisi ‘binu nono nihalo’ dalam kehidupan leluhur orang Nias.” (Yupiter Bago, 1-6-2007).
“Mengenai tradisi ‘sawuyu dan binu’ budaya megalitik Nias, yang diangkat oleh Sdr. Yupiter Bago, saya anggap hanya untuk mengingatkan sejarah budaya dan penegasan bahwa hal itu tidak sesuai era religi dan hak azasi manusia. Saya percaya tradisi sawuyu dan binu sudah lama lenyap di bumi Nias. Sdr. Yupiter Bago marilah kira berusaha dengan talenta kita masing-masing untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya Ono Niha yang bersemangat ‘membangun bersama’.” (M.J. Daeli, 2-6-2007)


















Pencarian

Bola Nafo

Yang terbaru

Sorake, surga selancar di sudut Pulau Nias

Tuesday, August 25, 2009
By nias
NIAS SELATAN-Pantai Sorake, Nias Selatan, menjadi salah satu tujuan para wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Sumatera Utara. Hamparan pasir pantai seakan menjadi alas berpijak kaum pribumi Kabupaten Sorake. Setiap turis yang menapakkan kakinya di pasir pantai Sorake, pasti terkesima dengan bentangan luas garis pantai dan barisan pohon kelapa pada setiap sisinya.
Panorama yang disajikan di sekitaran wilayah pantai Sorake memunculkan kesan damai. Setiap malam bahkan tidak pernah berhenti suara desiran ombak yang menghantam karang semakin menjadi-jadi. Apalagi ketika air pasang datang, suaranya seakan mampu membuat karang-karang di pinggiran pantai pecah.
Pantai Sorake juga disebut-sebut sebagai tempat selancar terbaik kedua setelah pantai Hawaii, Amerika. Pantai yang terletak di Pulau Nias, tepatnya di Desa Botohilitano, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan ini memang memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan mancanegara (wisman).
Kabupaten Nias Selatan merupakan salah-satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di Pulau Nias. Pesona pantai dan ombaknya dikenal di mata dunia, terbukti beberapa kali telah diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, tetapi lokasi ini belum tertata dengan rapi.
Sepanjang Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai, dengan tarif yang cukup murah sekelas penginapan melati. Jarak menuju ke Pantai Sorake dari Bandara Binaka Gunung Sitoli, Nias, kurang lebih menghabiskan waktu 4 jam dengan menggunakan angkutan umum kota.
Jika Anda ingin mengunjungi Pantai Sorake ini, Anda dapat menggunakan Feri atau Jet Foil dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau jika Anda naik pesawat, dari Polonia Medan menuju Binaka (Nias), Anda juga akan menjumpai banyak sekali turis mancanegara yang juga hendak menuju pantai Sorake ini. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan datang ke Pantai.
Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri. Ombak di pantai Sorake ini bisa mencapai ketinggian 15 m karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Ombak di Sorake ini konon memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya.
Namun, kenyataan menunjukkan pantai Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni – Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, kedua pantai tersebut adalah pantai indah yang sepi dan sunyi. (Waspada Online, 8 Agustus 2009)















Pencarian

Bola Nafo

Yang terbaru

Pulau Nias, Gambaran Bali Masa Lalu

Wednesday, June 6, 2007
By nias
BALI 30 tahun lalu. Begitu kebanyakan pendatang menyebut Pulau Nias, pulau kecil di tengah Samudera Indonesia bagian barat Sumatera yang terletak 85 mil dari daratan Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. pemandangan alam dan peninggalan masa lalu pulau seluas 5.318 kilometer persegi itu sungguh karunia Tuhan yang tidak ternilai harganya.
Setidaknya ada 14 pantai dengan pasir putih yang indah di sekeliling pulau. Sebagian besar pantainya berombak besar sepanjang tahun yang sangat cocok untuk olahraga selancar. Danau air panas Idanogawo, komunitas batu dan ikan karang kepulauan Pulau-pulau Telo, Lahewa, batuan megalitik di Gomo berusia di atas 3000 tahun, rumah adat Bawomataluo yang masih terjaga serta banyak lagi potensi terpendam yang belum tersentuh polesan manusia modern. Itu merupakan daya tarik Nias.
Pantainya seperti Sorake dan Lagundri yang berada di Teluk Lagundri, Kecamatan Teluk Dalam (120 km selatan Gunungsitoli, pasir putihnya menyatu dengan hamparan ribuan pohon kelapa sepanjang dua kilometer. Lokasi ini sesuai buat berjalan kaki, jogging atau merasakan deburan ombak yang bergulung tiada henti. “Wonderful,” kata Greg (32), turis Australia yang sudah bermukim di Sorake selama sepekan.
Tapi, masih ada nilai lebih pantai Sorake, yaitu ombaknya. Menurut para peselancar asing yang pernah ke Nias, belum layak dikatakan seseorang menjadi peselancar tangguh dunia bila belum menaklukkan ombak di sana. Sorake merupakan salah satu tempat selancar terbaik dunia setelah Hawaii.
Keindahan kawasan yang mulai dikenal dunia tahun 1980-an tersebut memang bukan basa-basi. Pada bulan Juni setiap tahunnya Sorake dijadikan ajang kontes selancar kelas dunia berkualifikasi bintang tiga dengan total hadiah 40.000 dollar AS. Setiap penyelenggaraan, sekitar 10 negara biasanya ikut ambil bagian untuk mendapatkan nilai penentuan peringkat internasional. Bahkan Australia telah menjadikan Nias sebagai salah satu lokasi wajib perlombaan selancarnya. Artinya, kejuaraan itu sudah dianggap sebagai salah satu kegiatan dalam negerinya sendiri.
Sorake dengan gulungan ombak setinggi dua meter membuat para atlet dapat bertahan cukup lama di dalamnya sehingga memaksa juri memberikan nilai sempurna 10. Pecahan ombaknya sangat halus dan dengan kesempurnaan bentuk gulungan ombak tuba (tube) klasik yang mungkin hanya terdapat dalam buku teori. Jye Gofton, peselancar Australia yang merupakan juara bertahan Nias Indonesian Open 1995, sempat membuat rekor yang hampir mustahil didapat peselancar dengan mendapat nilai 28,82 dari kemungkinan maksimal 30.
Teluk Lagundri memang memiliki ciri khas menguntungkan peselancar. Formasi terumbu karang di sepanjang pantai membuat ombak yang masuk dari selatan harus membentur karang terlebih dahulu sehingga membentuk gulungan. Pecahnya ombak semakin bagus karena lokasinya berada di kawasan teluk sehingga mampu membentuk ombak sepanjang 100 meter dengan 11 sampai 13 gulungan teratur. Selain itu, peselancar tidak perlu bersusah payah berenang ke tengah laut. Mereka cukup berjalan sedikit di tepian pantai dan ombak yang diinginkan sudah tersedia. Hal ini sangat memudahkan peselancar pemula maupun profesional.
***
BILA Anda mau berselancar atau sekadar tamasya tapi tidak suka keramaian, masih ada pilihan lain di Pulau Asu dan Pulau Bawah yang sangat sepi bahkan dari penduduk asli sekalipun. Dua pulau di Kecamatan Sirombu ini berbeda menyolok musim ombaknya. Saat angin utara bertiup dari Januari sampai Mei, Pulau Bawah sangat baik berselancar di sana, sebaliknya bila angin selatan bertiup, Mei sampai Oktober Pulau Asu-lah sasarannya.
Kesepian dan keindahan Pulau Asu membuat Nicholai Neven (34) dari Belgia betah bertahan di pulau itu sejak Juni 1993. Bersama Emannuel Telaumbanua, anak mantan Gubernur Sumut PR Telaumbanua, Nico – panggilan akrab Nicholai – membuka lima homestay yang disewakan kepada turis bertarif Rp 15.000 per malam.
Alasan turis datang, kata Nico, ombaknya sangat bagus untuk berselancar dan sepi dari pengunjung dibandingkan Sorake. Beberapa tempat di sana dapat dilakukan snorkeling dan scuba diving. Pada bulan Juli terutama setelah Kejuaraan Selancar Nias di Sorake, sekitar 30-50 peselancar selalu bermukim di sana bahkan ada yang sampai satu bulan.
“Kami belum pernah mempromosikan khusus, lagi pula memang tidak kami inginkan. Kami selalu menekankan kepada turis yang datang agar hanya memberitahu kepada temannya saja. Bila Pulau Asu menjadi ramai, kita pasti akan mencari tempat sepi yang lain. Cukuplah seperti ini saja, kita bisa makan secukupnya sambil menghayati keindahan alam ini,” ujar Nico.
Pulau Bawah pantainya juga indah, ombaknya besar dan jauh dari permukiman penduduk. Bedanya, di pulau ini lokasi selancar memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi karena banyak batu karangnya. Namun, kebanyakan peselancar asing justru ingin mencoba menaklukkan keganasan karang di sana. Kelebihan Pulau Bawah dibanding Pulau Asu yakni ada Danau Kecil berair tawar tepat di tengah-tengah pulau.
“Sudah seminggu lebih di Pulau Bawah bermukim 20 turis yang berasal dari berbagai negara, kebanyakan dari Australia,” ujar Ama Fredy (36), pemilik warung di pantai Sirombu.
Pantai yang juga asyik dikunjungi adalah pantai Moale, sekitar 40 kilometer sebelum Teluk Lagundri. Pasir putihnya di pantai sepanjang 2,5 km jauh lebih indah dibanding Sorake maupun Lagundri, dan saat matahari terbenam bola merah jingga matahari terbenam memantulkan warna emas di atas air laut.
Ada lagi pantai lain. Misalnya pantai Lahewa sepanjang delapan kilometer yang terletak 60 kilometer di ujung paling utara Pulau Nias. Di lokasi itu terdapat taman laut dengan hiasan batu dan ikan karang yang cantik. Belum lagi keindahan pantai Sirombu, pantai Lahusa, pantai Pulau-pulau Telo, pantai Sipika, Hinako, Sibranon, Tanamasa, Tanabala, Foa, Olora, Muara serta pantai lainnya.
***
DI Bukit Tolobahu di sisi sebuah gereja di atas Desa Idano Tae, Gomo, sekitar 60 km dari Gunungsitoli, terdapat ratusan batuan bermacam bentuk seperti patung, altar dan benda lain yang diperkirakan telah berusia di atas 3.000 tahun. Desa yang kini berpenghuni sekitar 15 kepala keluarga itu konon diyakini sebagai tanah leluhur nenek moyang pertama orang Nias. Tempat yang sedikit berbau mistis ini begitu dikeramatkan sebagian besar warga Nias.
Di areal seluas 3.000 meter persegi itu terlihat dominan meja batu yang semuanya berjumlah 62 unit. Tingginya berbeda-beda, ada yang 80 cm, 70 cm, 50 cm sampai 20 cm dengan ketebalan 10 sampai 20 cm. Benda lainnya adalah patung dengan hiasan kepala naga sejumlah 42 unit. Selain itu masih ada peti mayat, lesung pencucian kaki, mimbar, tiang pasungan, batu pancung, pilar gapura, kursi raja, kursi tamu, bangku panjang, jambangan bunga serta mangkok batu.
Meja-meja batu itu hingga kini masih utuh meski kondisi sekitarnya ditumbuhi semak tanda kurang terpelihara. Meja batu paling besar konon dipakai nenek moyang Nias untuk jamuan tamu agung atau kerajaan tetangga. Meja batu ukuran menengah untuk jamuan hulubalang raja, dan yang kecil untuk para abdi dan rakyat jelata.
Nias juga punya rumah adat. Lokasi yang paling terjaga terdapat di Desa Bawomataluo, Orahili dan Hilisimaetano, Kecamatan Teluk Dalam. Di desa-desa tradisional inilah terdapat hombo batu (susunan batu berbentuk kerucut setinggi dua meter) yang dikenal sebagai tempat latihan para pemuda yang akan berperang pada zaman dahulu. Pemuda yang akan berperang lulus seleksi bila mampu melompati batu ini. Logikanya sederhana, batu itu sebagai uji coba melewati benteng desa lawan yang umumnya terdiri dari batu setinggi dua meter juga. (syahnan)





Fahombo Batu “Tiada duanya di Dunia, Hanya di Nias Ada”

Agustus 1, 2003

Pendahuluan
Melompat batu ‘fahombo batu‘ telah menjadi salah satu cirikhas masyarakat Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m dengan ketebalan ! 40 cm.
Lompat batu merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan, khususnya Telukdalam. Tradisi ini tidak biasa dilakukan oleh masyarakat Nias di wilayah lain, dan hanya kaum laki-laki yang melakukannya. Hal ini juga telah menjadi indikasi perbedaan budaya nenek moyang atau lelehur masyarakat Nias. Yang harus diketahui lagi, tidak pernah ada perempuan Nias yang melompat batu.

Pada mulanya melompat batu, tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang. Baik fungsi maupun cara penguasaannya. Dahulu melompat merupakan kombinasi olah raga dan permainan rakyat yang gratis, bukan tradisi komersial.
Uji kekuatan dan ketangkasan
Melompat batu bukan sekedar konsumsi atau atrakasi pariwisata seperti kita lihat sekarang ini. Melompat batu merupakan sarana dan proses untuk menujukkan kekuatan dan ketangkasan para pemuda, sehingga memiliki jiwa heroik yang prestisius.
Jika seorang putra dari satu keluarga sudah dapat melewati batu yang telah disusun berdempet itu dengan cara melompatinya, hal ini merupakan satu kebanggaan bagi orangtua dan kerabat lainnya bahkan seluruh masyarakat desa pada umumnya. Itulah sebabnya setelah anak laki-laki mereka sanggup melewati, maka diadakan acara syukuran sederhana dengan menyembelih ayam atau hewan lainnya. Bahkan ada juga bangsawan yang menjamu para pemuda desanya karena dapat melompat batu dengan sempurna untuk pertama kalinya. Para pemuda ini kelak akan menjadi pemuda pembela kampungnya ‘samu’i mbanua atau la’imba horö,’ jika ada konflik dengan warga desa lain.
Kedewasaan dan Kematangan Fisik
Melihat kemampuan seorang pemuda yang dapat melompat batu dengan sempurna, maka ia dianggap telah dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan. Misalnya: menikah, membela kampungnya atau ikut menyerbu desa musuh dsb. Salah satu cara untuk mengukur kedewasaan dan kematangan seorang lelaki adalah dengan melihat kemampuan motorik di atas batu susun setinggi ! 2 meter.
Teknis Penguasaan Tradisi lompat batu
Karena suatu kebanggaan, maka setiap pemuda tidak mau kalah dengan yang lain. Sejak umur sekitar 7-12 tahun atau sesuai dengan pertumbuhan seseorang, anak-anak laki-laki biasanya bermain dengan melompat tali. Mereka menancapkan dua tiang sebelah menyebelah, membuat batu tumpuan, lalu melompatinya. Dari yang rendah, dan lama-lama ditinggikan. Ada juga dengan bantuan dua orang teman yang memegang masing-masing ujung tali, dan yang lain melompatinya secara bergilir. Mereka bermain dengan semangat kebersamaan dan perjuangan.
Untuk latihan dan permainan, sekumpulan anak laki-laki menumpuk tanah liat dan membentuknya seperti lompat batu, walaupun ketinggiannya tidak sama. Mulai dari satu meter. Setelah mampu melewati itu, maka mereka menumpuk tanah liat untuk menambah ketinggiannya. Permainan ini telah membuat anak-anak terbiasa melompat hingga dapat melompat batu setinggi dua meter dengan sempurna. Bahkan ada yang lebih.
Agar lebih mahir, pada sore hari, ketika para pemuda desa pulang dari ladang, maka mereka beramai-ramai latihan melompat batu. Terlebih pada sore hari minggu atau hari besar lainnya. Melompat batu merupakan sarana olah raga dan permainan yang menyenangkan bagi mereka dan menarik perhatian penonton.
Tidak semua dapat melompat batu
Walaupun latihan terus, ternyata tidak semua laki-laki dapat melompat. Ada yang sangkut-sangkut terus. Bahkan ada juga yang sampai kecelakaan, misalnya patah lengan, kaki dll. Ada kepercayaan bahwa hal ini dipengaruhi oleh faktor genetika. Jika ayahnya atau kakeknya seorang pemberani dan pelompat batu, maka d antara para putranya pasti ada yang dapat melompat batu. Kalau ayahnya dahulu adalah seorang pelompat batu semasih muda, maka anak-anaknya pasti dapat melompat walaupun latihannya sedikit. Bahkan ada yang hanya mencoba satu-dua kali, lalu, bisa melompat dengan sempurna tanpa latihan dan pemanasan tubuh.
Kemampuan dan ketangkasan melompat batu juga dihubungkan dengan kepercayaan lama. Seseorang yang baru belajar melompat batu, ia terlebih dahulu memohon restu dan meniati roh-roh para pelompat batu yang telah meninggal. Ia musti memohon izin kepada arwah para leluhur yang sering melompati batu tersebut. Tujuanya untuk menghindari kecelakaan atau bencana bagi para pelompat ketika sedang mengudara, lalu menjatuhkan diri ke tanah. Sebab banyak juga pelompat yang gagal dan mendapat kecelakaan.
Konflik antar kampung
Dahulu, melompat batu merupakan kebutuhan dan persiapan untuk mempertahankan diri dan membela nama kampung. Apapun dikorbankan demi kehormatan pada kampung sendiri ‘fabanuasa.’ “Öndröra va banuasa, kiri-kiri mbambatö.” Itulah motto dan prinsip dalam membela dan mempertahankan nama kampung. Artinya, rasa patriotis pada kampung lebih utama dari pada hubungan kekerabatan. Kejadian pada salah seorang warga kampung, merupakan peristiwa pada seluruh warga. Misalnya: Jika salah seorang warga kampung A disakiti oleh warga desa B, maka warga desa A yang lain akan turut membalasnya. Demikian sebaliknya. Hal ini menjadi sumber konflik antar kampung yang penyelesaianya kompleks dan meninggalkan dendam kesumat ‘horö manana.
Banyak penyebab konflik dan perang antar kampung. Misalnya: Masalah perbatasan tanah, perempuan dan sengketa lainnya. Hal ini mengundang desa yang satu menyerang desa yang lain, sehingga para prajurit ‘samu’i‘ yang ikut dalam penyerangan, harus memiliki ketangkasan melompat untuk menyelamatkan diri.
Akan tetapi dahulu, ketika tradisi berburu kepala manusia ‘mangai högö‘ masih dijalankan, peperangan antar kampung juga sangat sering terjadi. Ketika para pemburu kepala manusia dikejar atau melarikan diri, maka mereka harus mampu melompat pagar atau benteng desa sasaran yang telah dibangun dari batu atau bambu atau dari pohon ‘tali’anu‘ supaya tidak terperangkap di daerah musuh.
Itu juga sebabnya desa-desa didirikan di atas bukit atau gunung ‘hili‘ supaya musuh tidak gampang masuk dan tidak cepat melarikan diri.
Benteng Desa
Ketangkasan melompat dibutuhkan karena dahulu setiap desa telah dipagar atau telah membuat benteng pertahanan yang dibuat dari batu, bambu atau bahan lain yang sulit dilewati oleh musuh. Ada juga yang menggali lubang di sekeliling perkampungan supaya musuh-musuh jatuh ke dalamnya ketika melarikan diri atau memasuki desa sasaran.
Benteng-benteng desa yang dulunya disusun dari batu, sudah tidak kelihatan lagi sekarang, karena keserakahan manusia. Diruntuhkan dan diambil sebagai bahan bangunan.
Para pemuda yang kembali dengan sukses dalam misi penyerangan desa lain, akan menjadi pahlawan di desanya. Jika mereka menang dan tidak ada yang tewas di antara mereka, maka menjelang tiba di kampung, dekat gerbang desa ‘bawagöli,’ mereka berarak dan berteriak sembari melagukan “Hoho” kemenangan.
Atraksi Pariwisata
Sekarang ini, sisa dari tradisi lama itu, telah menjadi atraksi pariwisata yang spektakuler, tiada duanya di dunia. Berbagai aksi dan gaya para pelompat ketika sedang mengudara. Ada yang berani menarik pedang, dan ada juga yang menjepit pedangnya dengan gigi. Para wisatawan tidak puas rasanya kalau belum menyaksikan atraksi ini. Itu juga makanya, para pemuda desa di daerah tujuan wisata telah menjadikan kegiatan dan tradisi ini menjadi aktivitas komersial. Di satu sisi, mereka meminta dan bahkan ada yang setengah memaksa wisatawan untuk menyaksikan atraksi ini, namun di sisi lain mereka tidak mau melompat tanpa dibayar. Bahkan ada juga yang meminta sampai Rp 100.000 hingga Rp 200.000 sekali melompat, tergantung bargaining. Para pelompat telah mempunyai kelompok dan jaringan supaya tidak menjual murah.
Sekarang ini harganya berkisar Rp 50.000 sekali melompat. Namun kalau wisatawan tidak menunjukkan minat dan menolaknya, para pelompat pun akhirnya dapat menerima harga yang lebih murah. Dari pada tidak dapat uang, lebih bagus melompat saja.
Penutup
Tradisi lompat batu yang telah menjadi atraksi pariwisata yang spektakuler dan mampu membuat Nias dikenal oleh suku bangsa lain, kelihatannya sudah kurang digemari oleh generasi baru karena tingkat kesulitan untuk menguasainya. Anak-anak tidak bermain lagi dengan melompat tali. Tidak ada lagi kelompok anak-anak lelaki yang bergotong royong menggali tanah, menumpuk dan membentuknya menjadi bahan lompatan. Anak-anak tergantung pada bahan permainan modern yang harus dibeli dari pasar mainan anak-anak.
Selain itu, atraksi lompat batu juga sudah berubah fungsi. Di daerah-daerah tujuan wisata, para pemuda baru mau melompat, kalau bayarannya sesuai. Sudah tidak ada lagi olah raga melompat batu yang gratis. Yang ada adalah lompat batu komersil. Karena itu, dikuatirkan, jika turisme mati, maka tradisi lompat batu akan punah.
Jika Lompat batu punah, rumah adat rusak, megalit hilang dan dijual, burung Beo Nias punah, nilai-nilai budaya masyarakat sebagai kontol sosial yang luhur mati, apa lagi yang menjadi daya tarik Nias? Apa lagi keunikannya? Semuanya hanya akan menjadi kenangan masa lalu yang sulit diulang kembali.
Media Warisan Edisi No. 35 Tahun III Agustus-September 2003
Penulis: Nata’alui Duha, S.Pd.




Asal usul masyarakat nias
Support the Green Party

Friday, September 11, 2009

Asal-Usul Masyarakat Nias: Kajian atas Mitos-Mitos Leluhur Nias dan Implikasinya

Afthonul Afif*
A.    Pendahuluan
  1.  
Menurut catatan Koestoro dan Wiradnyana (2007), Nias adalah gugusan pulau yang jumlahnya mencapai 132 pulau, membujur di lepas pantai barat Sumatra yang menghadap Samudra Hindia. Tidak semua pulau-pulau tersebut dihuni oleh manusia. Hanya ada sekitar lima pulau besar yang dihuni oleh manusia, yaitu Pulau Nias (9.550 km²), Pulau Tanah Bala (39,67 km²), Pulau Tanah Masa (32,16 km²), Pulau Tello (18 km²), dan Pulau Pini (24,36 km²). Di antara kelima pulau tersebut, Pulau Niaslah yang berpenghuni paling padat, dan menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan. Pulau yang terkenal dengan budaya megalitiknya ini menyimpan beberapa misteri dan keunikan. Termasuk mengenai asal-usul leluhur orang Nias saat ini. Para penghuni pulau ini menyebut dirinya sebagai ono niha (orang Nias) yang diyakini oleh sebagian ahli antropologi dan arkeologi sebagai salah satu suku tertua di Nusantara (Koestoro dan Wiradnyana, 2007)
Ada beberapa versi mengenai siapa sebenarnya leluhur orang Nias saat ini, baik yang bersumber dari hoho (cerita lisan yang berkembang di masyarakat Nias yang diwariskan secara turun-temurun sehingga menyerupai mitos), maupun data-data ilmiah temuan para arkeolog. Menurut Johannes Maria Hammerle dalam bukunya yang berjudul Asal-Usul Masyarakat Nias (2007), hoho yang berkembang di Nias menyebutkan bahwa manusia pertama yang tinggal di Nias adalah sowanua atau ono mbela. Ono mbela merupakan keturunan penguasa kayangan, Ibu Sirici, yang memerintahkan keenam anaknya untuk turun ke bumi menggunakan liana lagara, sejenis tumbuhan yang biasanya merambat di pohon. Karena liana lagara yang digunakan telah rapuh, sebagian di antara mereka ada yang jatuh ke bumi dan sebagian yang lain memilih tinggal di atas pohon. Anak turun Ibu Sirici yang memilih tinggal di atas pohon inilah yang kemudian disebut sebagai sowanua atau ono mbela (manusia pohon). Ono mbela dikenal memiliki kulit yang putih dan berparas cantik. Ciri-ciri fisik tersebut mengundang para peneliti untuk membuat sebuah interpretasi bahwa ono mbela berjenis kelamin perempuan (Hammerle, 2007:50-51).
Lantas ke mana perginya anak turun Ibu Sirici yang jatuh ke tanah? Menurut sebuah versi hoho yang lain, mereka kemudian menyelamatkan diri dengan mencari perlindungan di gua-gua. Mereka tidak lagi disebut sebagai ono mbela lagi, tetapi nadaoya atau manusia yang menghuhi gua. Secara fisik keduanya berbeda. Jika ono mbela dikenal memiliki kulit putih dan berparas cantik, maka nadaoya dikenal memiliki kepala dan tubuh yang lebih besar dengan kulit berwarna gelap. Menurut dugaan Ketut Wiradnyana (2006), arkeolog dari Badan Arkeologi Medan, besar kemungkinan keduanya sudah tergolong bangsa manusia, namun berasal dari ras yang berbeda, bukan satu keturunan. Lantaran keterbatasan pengetahuan yang dimiliki penduduk Nias waktu itu, asal-usul keduanya kemudian cenderung dimitoskan karena dianggap memiliki nenek moyang yang berbeda dengan manusia pendatang. Apa yang dijelaskan hoho ini didukung oleh bukti-bukti ilmiah. Berdasarkan hasil penelitian Badan Arkeologi Medan, di Nias ditemukan jejak-jejak manusia prasejarah yang meninggalkan artefak-artefak di gua-gua, salah satunya yang terkenal adalah di Gua Tőgi Ndrawa yang terletak di Desa Lőlőwanu Niko`otanő, Kecamatan Gunung Sitoli. Jejak kehidupan tersebut dapat ditemukan melalui alat-alat tulang dan batu berupa serpih, batu pukul, dan pipisan (Wiradnyana, 2006). Selain itu, dalam penelitian lain yang dilakukan Wiradnyana (2008), di Nias juga ditemukan sisa-sisa vertebrata yang terdiri dari ikan (pisces), ular (ophodia), kura-kura (rodentia), kelelawar (chiroptera), hewan berkuku genap (artiodactyla), dan cangkang moluska dari kelas gastropoda dan pelecypoda (Wiradnyana, 2008).
Hoho lainnya yang menceritakan leluhur orang Nias disampaikan oleh Hammerle, tepatnya hoho yang berkembang di Kecamatan Gomo, Kabupaten Nias Selatan. Hoho ini terkait dengan nama Gomo untuk kecamatan yang dimaksud. Kata gomo, memiliki makna owo–gomo–omo, yang berarti perahu –gomo– rumah. Dahulu kala, terdapat rombongan manusia perahu berasal dari daratan Asia yang terombang-ambing di tengah samudra yang kemudian terdampar di Nias. Meskipun Hammerle mengakui pendapatnya ini tidak memiliki cukup bukti ilmiah, namun tafsir yang dikemukakannya cukup masuk akal. Ia menghubungkan perahu dengan sejarah asal-usul suku Nias yang datang dari seberang lautan. Mereka terdampar di pantai sekitar muara sungai, lalu membangun rumah (omo) di pinggir sungai yang sekarang dikenal dengan Sungai Gomo. Jadi, kata gomo ada hubungannya dengan owo (perahu) dan omo (rumah) (Hammerle (1990) dalam Sonjaya, 2001:52).
Meskipun hoho yang berkembang di Nias tidak hanya seperti yang disebut di atas (karena hampir setiap marga memiliki hoho-nya masing-masing), namun ketiga hoho inilah yang sampai saat ini paling diyakini sebagian besar orang Nias. Dilihat dari rasnya, orang Nias termasuk dalam rumpun Austronesia. Bahasa sehari-hari yang digunakannya, yaitu bahasa Nias, juga semakin memperkuat pendapat tersebut. Secara genealogis, bahasa Nias tergolong rumpun bahasa Austronesia. Ciri dialek bahasa Nias adalah nada yang meninggi di akhir kata dan kalimat. Menurut Reuter (2005:12), bahasa Austronesia dituturkan secara luas, dari Madagaskar di ujung barat —melintasi Asia Tenggara Daratan maupun Kepulauan hingga ke arah timur melintasi kawasan Pasifik yang berujung di Selandia Baru dan Hawaii. Secara umum, kebudayaan yang berkembang di Nias juga memiliki kesamaan dengan kawasan-kawasan Austronesia lainnya, yaitu berciri megalitik, memuja roh leluhur, dan bercocok tanam.
Dilihat dari topografinya, Nias adalah dataran rendah yang di tengahnya terdapat bukit-bukit. Mayoritas penduduknya masih tinggal di pedalaman, di kampung-kampung yang saling mengisolasi, dan berprofesi sebagai petani. Meskipun metode bertani masyarakat Nias masih bersifat sederhana, tetapi mereka tetap mampu menghasilkan beberapa komoditas unggulan, seperti kelapa, karet, cokelat, dan nilam. Akhir-kahir ini –setelah dikelola lebih serius— sektor pariwisata juga merupakan tulang punggung perekonomian penduduk Nias. Di bidang pariwisata, potensi wisata Nias terletak dijalur yang disebut Segitiga Emas Industri Pariwisata Nias Selatan, yaitu Kecamatan Lolowa`u –Gomo— Pulau-pulau Batu. Porosnya terletak di omo hada, rumah tradisional di Desa Bawomataluo, Kecamatan Teluk Dalam (Julianery, 2006).
B. Leluhur Orang Nias dalam Sejarah Lisan
Untuk mengetahui lebih jelas dari mana asal-usul atau leluhur orang Nias saat ini, perlu disebutkan terlebih dahulu sejarah lisan yang berkembang di Nias mengenai pembagian kelompok etnis yang ada di pulau ini. Dalam catatan Hammerle, Masyarakat Nias meyakini terdapat tiga kelompok etnis berbeda yang pernah —bahkan sampai saat ini keturunannya dianggap masih tinggal di Nias, yaitu: (1) Niha sebua gazuzu, yaitu manusia yang memiliki kepala besar dan merupakan ciri manusia purba yang hidup ribuan tahun lalu dan tinggal di gua-gua, sehingga mereka juga disebut manusia dari bawah tanah (soroi tou). Dalam hoho di atas mereka disebut nadaoya; (2) Niha safusi,yaitu kelompok manusia berkulit putih dan cantik yang tinggal di atas pohon. Dalam hoho di atas mereka disebut sebagai ono mbela; (3) Lani ewöna, yaitu bangsa manusia yang sudah dikategorikan sebagai homo sapiens yang bermigrasi dari seberang lautan dengan keahlian dan pengetahuan yang lebih tinggi dari kedua pendahulunya, sehingga mereka berpengaruh besar dan membawa transformasi sosial di Nias. Kelompok etnis inilah yang selanjutnya memproklamirkan diri sebagai ono niha (orang Nias) (Hammerle, 2001:50—52).
Namun, seiring berjalannya waktu, sebagaimana diramalkan oleh Teori Evolusi, hanya kelompok etnis terkuatlah yang sanggup bertahan hidup. Dengan demikian, lani ewöna lah yang sanggup bertahan hidup di Pulau Nias. Menurut pendapat Nata`alui Duha (2008), mereka memiliki teknologi yang lebih maju, sehingga sanggup bertahan hidup tidak hanya dari mengandalkan sumber pangan yang tersedia di alam tetapi memiliki ketrampilan untuk mengolah tanah dan bercocok tanam. Kemampuan inilah yang diduga banyak arkeolog telah membuat manusia ini sanggup bertahan hidup dalam waktu yang lama. Berbeda dengan kedua pendahulunya yang sangat tergantung dengan alam. Ketika sumber pangan yang tersedia di alam semakin menipis, mereka akhirnya terdesak dan kemudian punah.
Sebelum dapat dipastikan bahwa hanya lani ewönalah yang merupakan leluhur manusia Nias saat ini, perlu kiranya dijelaskan terlebih dahulu tentang kedua pendahulunya secara lebih lengkap karena hal ini dapat membantu mencari tahu siapa sebenarnya mereka dan mengapa mereka menjadi punah.
1. Ono mbela atau Niha Safusi
Sebagaimana disebut di atas, ono mbela adalah mahluk yang hidup di atas pohon. Di kalangan orang Nias, terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai mahluk ini. Sebagian penduduk Nias meyakini bahwa ono mbela adalah benar-benar manusia yang pernah hidup di Nias. Sedangkan sebagian yang lainnya menganggap ono mbela bukan manusia, melainkan mahluk gaib yang menguasai segala macam binatang di hutan. Namun, mengenai ciri fisik yang dimiliki ono mbela, masyarakat Nias tidak berselisih pendapat. Ono Mbela memiliki rambut putih, kulit putih, berparas cantik, dan mata biru seperti orang Eropa.
Ono mbela sudah menghuni Nias jauh sebelum ono niha datang ke pulau ini. Ono mbela kemudian kalah bersaing dengan kelompok pendatang dan seringkali “dibodohi” karena dianggap lebih rendah dan bukan berasal dari golongan manusia. Dengan nada sombong, para pendatang ini kemudian menegaskan dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang berhak menghuni pulau Nias. Akibat dominasi dari pendatang yang memiliki teknologi dan kebudayaan yang lebih maju, ono mbela mulai terdesak, dan akhirnya mengundurkan diri hingga tidak dapat dijumpai lagi (Hammerle, 2001:55—58).
Sayang, usaha untuk membuktikan bahwa ono mbela adalah manusia selalu terbentur dengan data. Sejauh ini, belum ditemukan –bahkan bisa dikatakan musathil –artefak-artefak yang menjelaskan bahwa mahluk ini pernah hidup di Nias. Hal ini sebenarnya dapat dimaklumi, karena jejak-jejak di tempat terbuka memang lebih mudah terhapus atau hilang karena proses alam atau aktivitas manusia, seperti pembakaran hutan dan perladangan yang intensif.
Atas kekaburan fakta tersebut, Jajang Sonjaya mengajukan dua hipotesis untuk menjelaskan keberadaan ono mbela di Nias. Hipotesis pertama menyebutkan bahwa ono mbela adalah ras Australomelanesid, manusia pertama yang menghuni wilayah Asia Tenggara. Seiring berjalannya waktu, keberadaan mereka kemudian menjadi mitos bagi masyarakat Nias dari generasi baru sesudahnya. Hipotesis yang kedua menyebutkan bahwa ono mbela merupakan ras Mongoloid yang datang lebih awal ke Nias yang sebenarnya sudah membawa kebudayaan neolitik, namun tidak berkembang di Nias karena kondisi lingkungan menuntut para pendatang ini mengembangkan tradisi perburuan (Sonjaya, 2008:51).
2. Nadaoya atau Niha Sebua Gazuzu
Nadaoya dianggap sebagai salah satu makhluk yang mungkin telah hidup sezaman dengan ono mbela. Hal ini dibenarkan oleh salah satu hoho yang berkembang di Nias, bahwa antara ono mbela dan nadaoya berasal dari satu keturunan, yaitu sama-sama keturunan Ibu Sirici. Dilihat dari ciri fisiknya, nadaoya berkulit gelap dan memiliki kepala yang besar. Mereka diduga adalah manusia purba dari ras Austromelanesid yang hidup di lembah-lembah yang dalam dan gelap serta di tebing sungai yang tinggi dan terjal. Habitat yang dimaksud menjurus pada gua-gua, sebagaimana umumnya manusia purba lainnya.
Dalam kepercayaan dan tradisi lisan Nias yang berkembang di Nias, sebagaimana dikemukakan Nata`alui Duha (2008), nadaoya digambarkan sebagai makhluk jahat atau setan raksasa (bekhu sebua). Suaranya besar sekali, aksentuasi bunyinya tidak jelas, dan terdengar patah-patah. Bagi orang Nias, bertemu dengan nadaoya adalah sebuah malapetaka. Sebab, kalau mereka lewat dan bertemu dengan manusia, mereka akan langsung memangsa manusia tersebut. Sampai saat ini, cerita tentang kejahatan nadaoya masih berkembang. Jangankan bertemu, menyebut nama nadaoya saja adalah hal yang menakutkan bagi masyarakat Nias. Apalagi kalau penyebutan itu dimaksudkan untuk mengutuk orang lain: ya mu`a ö nadaoya ya mana ndraugö nadaoya (semoga nadaoya mamangsa engkau). Ungkapan ini adalah sesuatu yang keras dan ditakuti orang Nias (Nata`alui Duha, 2008).
Kalau dikaji tentang asal-usul masyarakat Nias, lalu dihubungkan dengan bukti-bukti material yang terdapat di dalam gua-gua (seperti artefak-artefak yang ditemukan di Gua Tőgi Ndrawa yang terletak di Desa Lőlőwanu Niko`otanő, Kecamatan Gunung Sitoli) dan tradisi lisan sebagaimana diceritakan di atas, maka nadaoya merupakan kelompok manusia purba yang pernah tinggal di Nias dan menganut hukum rimba. Mereka sudah hadir di pulau Nias sebelum kedatangan etnis lain. Dengan demikian, mereka bukanlah setan raksasa. Mereka semakin ganas karena terpojok dan tidak memiliki tempat lagi untuk berkembang, karena alam telah dirusak oleh manusia yang memiliki pengetahuan (Nata`alui Duha, 2008).
Jika kita merujuk pada data arkeologis yang dipublikasikan Badan Arkeologi Medan, nadaoya benar-benar pernah hidup di Nias. Mereka tinggal di gua-gua sejak 12.000 tahun yang lalu, bahkan berlanjut hingga tahun 1150-an. Mereka memanfaatkan biota laut dan mangrove. Budaya yang mereka miliki disebut budaya Hoabinh, sebuah praktek kehidupan yang memanfaatkan batu-batuan sebagai alat bantu yang disebut Sumatralith, mirip dengan teknologi yang digunakan manusia purba di wilayah Hoabinh, Vietnam (Wiradnyana, 2006).
Dilihat dari rentang masa hidupnya, kemungkinan besar nadaoya pernah hidup dalam waktu yang bersamaan dengan kelompok pendatang. Hanya saja, karena manusia gua belum mengenal teknologi bercocok tanam, akhirnya mereka kalah bersaing dengan manusia pendatang. Akibatnya, kelompok mereka lambat-laun lenyap, dalam arti punah, atau sebagian membaur dengan kelompok pendatang dalam jalinan pernikahan atau hubungan ekonomi (tuan-budak).
Terkait dengan kondisi di atas, Sonjaya dengan sangat baik membuat analogi mengenai interaksi antara manusia gua dengan kelompok pendatang. Interaksi antara manusia gua dengan kaum pendatang mirip interaksi antara masyarakat Baduy dengan masyarakat Jakarta. Jakarta sudah berbudaya metropolis, sedangkan Baduy berbudaya ladang yang masih menggunakan beliung batu untuk bercocok tanam. Dalam waktu yang sama dan wilayah yang sama (Jawa bagian Barat) berkembang dua kebudayaan yang secara teknologis sangat berbeda ibarat bumi dan langit. Perlahan-lahan Baduy sedang berubah karena gencarnya pengaruh globalisasi dari Jakarta (Sonjaya, 2008:49—50). Suku yang menurut Yuanzhi (2005:11), sebagai salah satu suku tertua di Nusantara, dan sudah bertahan ratusan bahkan ribuan tahun ini barangkali tidak lama lagi akan punah karena meluruhnya sekat-sekat budaya, sosial, dan ekonomi di antara keduanya. Kehidupan manusia gua dengan kelompok pendatang di Nias pada abad-abad yang lalu dapat dibayangkan seperti kehidupan antara orang Baduy dengan orang Jakarta.
3. Lani Ewöna atau Ono Niha
Menurut penjelasan Teori Persebaran Kebudayaan, sebagaimana diungkapkan oleh Sonjaya (2007:60) dan Hammerle (2007), leluhur orang Nias atau ono niha saat ini berasal dari daratan Cina bagian selatan, tepatnya wilayah Yunan. Hal ini dapat dilihat dari bukti-bukti linguistik dan arkeologi. Leluhur ono niha adalah penutur bahasa Austronesia yang bermigrasi dari Yunan secara bergelombang sekitar 3500 tahun sebelum Masehi hingga awal-awal Masehi. Ketrampilan orang Nias dalam membuat patung kayu, menhir, benda-benda megalitik lainnya, serta teknik bertani dan beternak, diwarisi dari orang-orang Yunan yang datang ke pulau ini. Hipotesis ini bertambah kuat jika melihat peralatan dan gaya arsitektur di Nias. Pengaruh itu berupa motif kepala naga (hewan yang melegenda di Cina) yang terdapat pada pegangan atau gagang pedang, bagian depan rumah bangsawan, peti mayat, dan sejumlah megalit di daerah Lahusa dan Gomo (Hammerle, 2007).
Dalam analisisnya, Sonjaya mengatakan bahwa kelompok pendatang ini juga tidak lagi tergantung dengan alam, karena sudah mengenal tata cara bercocok tanam dan food producing. Mereka sudah tinggal menetap. Banyaknya waktu luang juga telah mendorong mereka memikirkan dan membayangkan hal-hal yang abstrak, seperti keindahan. Ekspresi keindahan tersebut dapat dilihat pada manik-manik yang terdapat di pakaian orang Nias dan gelang yang dipakai di lengan dan kaki. Dilihat dari periodenya, masa ini disebut sebagai zaman neolitikum yang ditandai dengan kemampun food producing dan benda-benda kebudayaan, seperti tembikar, kapak batu, patung, dan lain-lain. Atas keunggulannya itu, para pendatang dari Yunan yang berkebudayaan neolitik kemudian memproklamirkan diri sebagai kelompok pertama yang telah meletakkan dasar-dasar kebudayaan sebagaimana diekspersikan manusia Nias saat ini. Mereka juga menyebut dirinya sebagai anak manusia yang berbeda dengan kelompok manusia yang tinggal di pohon dan di gua, seperti ono mbela dan nadaoya (Sonjaya, 2008:49).
Orang-orang Yunan tersebut diperkirakan tiba di Nias melalui Pelabuhan Singkuang, Tapanuli Selatan. Apabila dilihat di peta, Kota Singkuang terletak persis di sebelah utara pantai barat Sumatra. Mereka kemudian bergerak ke arah barat dan sampai di wilayah Lahusa dan Gomo, yang sekarang ini menjadi pusat pemerintahan tingkat kecamatan. Jarak yang ditempuh sekitar 110 kilometer, lebih dekat dibandingkan perjalanan dari Sibolga menuju Gunung Sitoli. Sampai sekitar 500 tahun yang lalu, pusat perkembangan kebudayaan Nias masih terletak di tepi Sungai Susua dan Gomo (Hammerle, 2007). Jika dihubungkan dengan salah satu hoho yang berkembang di Nias, khususnya di Kecamatan Gomo, hipotesis ini bertambah kuat. Kata gomo, memiliki makna owo–gomo–omo, yang berarti perahu –gomo– rumah. Owo merujuk pada alat transportasi yang digunakan oleh orang-orang Yunan waktu itu, yaitu perahu. Gomo merujuk pada wilayah yang dihuni, yaitu di daerah Gomo. Sedangkan omo merujuk pada rumah yang dibangun di sekitar pinggiran Sungai Gomo (Sonjaya, 2008:52).
Kedatangan orang-orang Yunan dengan kemampuan teknologi yang lebih maju inilah yang disinyalir telah mendesak keberadaan ono mbela dan nadaoya. Karena kalah bersaing dalam memperebutkan sumber daya alam, mereka lama-kelamaan menjadi punah. Secara lebih sistematis, Nata`alui Duha (2008) menjelaskan penyebab kepunahan ono mbela dan nadaoya sebagai berikut:
Pertama, berlakunya hukum rimba. Manusia purba menganut hukum rimba, siapa yang kuat, maka dialah yang menang dan dapat bertahan hidup. Ketika orang Yunan datang ke Nias, dengan berbagai keunggulan pengetahuan dan teknologinya, secara logika mereka lebih kuat dibanding dengan ono mbela dan nadaoya. Sebab, mereka tidak hanya mengandalkan otot dalam menguasai alam untuk mempertahankan hidup, tetapi juga otak. Ono mbela dan nadaoya yang terdesak kemudian mengasingkan diri. Karena hanya mengandalkan ketersediaan pangan dari alam, mereka akhirnya punah karena tidak dapat menyesuaikan diri dengan kehidupan sosial yang terus berubah dan sumber pangan yang semakin menipis. Mungkin juga telah terjadi peperangan di antara mereka yang disebabkan oleh perbedaan etnis. Kaum pendatang yang menguasai teknologi lebih maju, akhirnya memenangkan peperangan tersebut.
Kedua, sumber daya alam yang menipis. Lantaran manusia purba seperti kelompok ono mbela dan nadaoya sangat bergantung pada alam, maka ketika alam rusak dan hutan habis dibabat secara liar, habitat mereka semakin terjepit. Tidak ada tempat dan sumber makanan untuk dapat bertahan hidup. Maka mereka tidak berkembang dan akhirnya punah.
Ketiga, pembauran melalui perkawinan. Persinggungan antara kelompok pendatang dengan kelompok-kelompok asli tidak hanya berujung pada persaingan dan peperangan saja, tetapi juga sangat mungkin telah terjadi perkawinan di antara mereka. Terlebih lagi --seperti dijelaskan sebelumnya bahwa kelompok ono mbela itu cantik-cantik, sehingga sudah barang tentu, suka atau tidak suka, mereka potensial dikawini oleh kaum pendatang yang lebih pintar. Mereka bagaikan gadis desa yang lugu tetapi cantik yang selalu menjadi incaran para pria dari kota sebagaimana terjadi pada zaman sekarang. Keturunan mereka tidak lagi disebut sebagai kelompok ono mbela atau nadaoya, tetapi mengikuti garis keturunan kelompok yang lebih dominan dan berkuasa. Mengenai hal ini, Nata`alui Duha mengusulkan kepada para peneliti untuk meneliti DNA manusia Nias saat ini untuk menguji apakah telah terjadi pembauran secara genetik antara kelompok pendatang dengan kelompok asli.
Sampai di sini dapat disimpulkan bahwa pendapat yang paling kuat tentang siapa sebenarnya leluhur orang Nias atau ono niha saat ini adalah lani ewöna, imigran yang berasal dari Yunan, Cina bagian selatan. Meskipun kesimpulan ini juga tidak menampik fakta (jika telah dibuktikan secara ilmiah) bahwa telah terjadi perkawinan antara lani ewöna dengan ono mbela dan nadaoya. Namun, jika dilihat ciri-ciri fisik orang Nias saat ini, yaitu berkulit putih, bermata agak sipit, bertubuh gempal dan pendek, pendapat yang mengatakan bahwa leluhur orang Nias berasal dari Yunan sangat beralasan, karena pada umumnya orang-orang Cina juga memiliki ciri-ciri fisik yang sama.
Setelah beratus-ratus, bisa juga beribu-ribu tahun, nyaris tidak ada kelompok etnis lain yang menjadi pesaing lani ewöna di Nias, mereka menjadi satu-satunya kelompok yang berkuasa, sehingga mereka lebih leluasa untuk mengembangkan tempat pemukiman. Orang-orang Nias mulai beranjak dari tempat tinggal para leluhurnya di sepanjang Sungai Gomo, terutama di daerah Börönadu (sekarang sebuah desa yang berada di Kecamatan Gomo). Hal ini dapat dilihat dari sejarah lisan yang berkembang di Börönadu. Menurut Ama Watilina Hia, tokoh adat di Börönadu, nenek moyang orang-orang di Gunung Sitoli dan Teluk Dalam berasal dari Börönadu. Orang-orang Gunung Sitoli adalah keturunan orang Börönadu yang bernama Lase, sedangkan nenek moyang orang Teluk Dalam adalah orang Börönadu yang bernama Sadawamölö (Sonjaya, 2008:57). Sejarah lisan ini diperkuat oleh pendapat M.G. Thomsen dalam bukunya yang berjudul Famareso Nhawalö Huku Föna Awö Gowe Nifasindro (Megalithkultur) Ba Dano Nias (1976) yang menyebutkan bahwa perpindahan marga-marga besar dari Börönadu ke tempat-tempat lain berlangsung antara 26 sampai 40 generasi yang lalu. Satu generasi sama dengan 25 tahun. Sayangnya, pendapat Thomsen tersebut tidak diikuti dengan penjelasan ke mana persebaran orang-orang Börönadu tersebut. Lebih jelasnya sebagai berikut:
“Telambanua bersama klannya pindah dari Börönadu kira-kira 40 generasi yang lalu. La`ia bersama klannya pindah dari Börönadu 38 generasi yang lalu. Ndururu bersama klannya pindah dari Börönadu 36 generasi yang lalu. Zebua bersama klannya pindah dari Börönadu 38 generasi yang lalu. Dan Hulu bersama klannya pindah dari Börönadu 26 generasi yang lalu.” (Thomsen (1976) dalam Sonjaya, 2008:57)
Sejak proses persebaran tersebut, marga-marga besar di Nias mulai terbentuk, yang berujung pada munculnya bibit-bibit persaingan dan permusuhan antarsesama orang Nias. Bagi orang Börönadu, orang-orang yang meninggalkan Börönadu dianggap sebagai orang yang tidak menghormati adat dan leluhur, meskipun proses perpindahan tersebut mungkin lebih disebabkan oleh faktor-faktor pragmatis, seperti mencari sumber kehidupan yang lebih layak menuju daerah yang lebih makmur, karena secara geografis Börönadu memang terpencil.
Setelah peristiwa tersebut, persaingan antarmarga semakin kuat dan atmosfirnya masih terasa hingga sekarang. Suasana interaksi antarmarga dan antarkampung diwarnai egosentrisme, yaitu melihat marga atau kampung yang lain selalu dari perspektif marga dan kampung sendiri. Setiap marga berusaha menampilkan dirinya sebagai marga dengan identitas yang paling unggul. Fenomena ini sejalan dengan Teori Identitas Sosial, yang berasumsi bahwa pada dasarnya setiap individu yang tergabung dalam kelompok sosial tertentu cenderung akan membangga-banggakan kelompoknya sendiri, dan menganggap kelompok yang lain lebih buruk atau rendah (Stangor, 2000:101).
Titik puncak dari suasana persaingan dan permusuhan tersebut adalah berlakunya tradisi owasa (pesta 3 hari tiga malam dengan mengorbankan puluhan, bahkan ratusan babi) dan tradisi mangani binu (memburu kepala manusia), yang diperkenalkan pertama kali oleh tokoh bernama Awuwukha, manusia digdaya yang hidup di Nias pertengahan abad ke-19. Tradisi tersebut adalah simbol identitas dan kebanggaan orang Nias. Harga diri seseorang ditentukan oleh berapa jumlah kepala babi dan kepala manusia dari marga lain yang telah dipenggal. Mekipun tradisi ini mulai menyusut pengaruhnya semenjak para misionaris Barat mewartakan agama Kristiani di pulau ini pada akhir abad ke-19 M dan awal abad ke-20 M, suasana permusuhan yang terwarisi secara lintas generasi tersebut ternyata tidak hilang sepenuhnya, dan masih berdampak pada pembentukan kepribadian orang Nias saat ini. Wajar saja –jika orang Nias kemudian dianggap memiliki kecurigaan yang tinggi dan cenderung menutup diri ketika berhadapan dengan orang asing (Sonjaya, 2008:63—72).
C. Ekspresi Penghormatan Leluhur dalam Praktek
Di bagian ini akan dibahas implikasi-implikasi sosial sebagai bagian dari konsekuensi pemahaman orang Nias terhadap leluhur mereka. Orang Nias adalah kelompok etnis yang sampai saat ini masih cukup kuat memegang teguh tradisi, yang diwariskan secara turun-temurun oleh leluhurnya. Tradisi menjadi semacam sarana yang dapat menjadi jembatan komunikasi antara orang Nias saat ini dengan leluhurnya, dan juga dapat berfungsi sebagai media untuk mengukuhkan identitas sosialnya.
Terkait dengan tradisi penghormatan terhadap leluhurnya, orang Nias mempraktekkan ritual-ritual tertentu agar hubungan baik dengan leluhur tetap terbina. Orang Nias mewarisi sebuah tradisi yang kompleks dari leluhurnya. Mereka memraktekkan banyak ritual, karena hampir setiap peristiwa kehidupan dihayati dan dimaknai sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mereka. Namun, bagian ini tidak bermaksud menjelaskan itu semua. Bagian ini hanya berusaha membabarkan ritual-ritual khusus yang secara langsung berkorelasi dengan penghormatan terhadap nenek moyang atau leluhur orang Nias.
Di atas telah dijelaskan tentang ono mbela, makhluk yang dianggap sebagai salah satu leluhur orang Nias, meskipun di Nias sendiri terjadi perbedaan pendapat apakah ono mbela merupakan generasi pertama penghuni Pulau Nias, atau sebangsa mahluk halus. Terlepas dari pendapat mana yang benar, yang pasti keberadaannya sampai saat ini masih berpengaruh cukup kuat terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat Nias.
Ono mbela adalah mahluk yang tinggal di atas pohon, yang berkuasa atas kehidupan seluruh marga satwa di hutan. Sehingga, ketika orang Nias hendak berburu binatang di hutan, mereka harus menyelenggarakan ritual persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada ono mbela. Menurut Sonjaya, ritual persembahan tersebut dilaksanakan dengan cara mengorbankan anak babi atau ayam berbulu putih di bawah pohon besar di hutan yang dianggap sebagai rumah ono mbela. Setelah memberi persembahan tersebut, si pemburu kemudian pulang ke rumah dan wajib melakukan puasa selama empat hari. Selama berpuasa, ia tidak boleh berdusta dan tidak boleh berpergian ke mana-mana. Setelah puasa selesai ditunaikan, ia baru diperbolehkan pergi ke hutan untuk berburu (biasanya ditemani anjing) (Sonjaya, 2008:50—51).
Ritual tersebut seolah-olah menggugurkan pendapat yang mengatakan bahwa hubungan antara orang Nias dengan ono mbela selalu berada dalam situasi permusuhan. Bahkan di daerah Börönadu, ono mbela lebih populer dengan sebutan belada, yang artinya adalah sahabat atau kawan. Dengan demikian, fakta ini dapat dijadikan sebagai bukti bahwa punahnya ono mbela di wilayah Nias bukan karena direndahkan atau diperangi oleh orang Nias (ono niha), melainkan lebih karena faktor seleksi alam sebagaimana berlaku dalam Teori Evolusi, yaitu kalah bersaing dalam hal teknologi dan kebudayaan.
Dengan aksentuasi nilai yang berbeda, di Nias juga terdapat tradisi penghormatan terhadap leluhur yang disebut mangani binu atau tradisi memburu kepala. Kepala yang dimaksud bukanlah kepala hewan, melainkan kepala manusia. Bagi pihak yang kurang memahami budaya Nias secara lebih utuh, tradisi ini mungkin dianggap sebagai kebiadaban –praktek kebudayaan paling keji-- yang pernah dibuat oleh anak manusia. Bahkan, seringkali terjadi kesalahpahaman yang berujung pada tuduhan bahwa orang Nias dulunya adalah termasuk suku kanibal, sebagaimana diungkapkan oleh Masashi (2005) berikut ini: “In the tenth century, Ajä`ib al-Hind described the people between Fansur (present day Barus) and Lambri and those in Kedah and the island of Nias as cannibals.”
Meskipun secara moral tradisi mangani binu tidak dibenarkan, namun dengan menelusuri konteks sosio-historis masyarakat Nias zaman dulu, diharapkan akan ditemukan titik terang mengapa tradisi ini bisa berlaku. Dalam sejarah lisan yang berkembang di Nias, tradisi mangani binu tidak dapat dipisahkan dari legenda Awuwukha, sosok manusia digdaya yang pernah hidup di Nias pertengahan abad ke-19 M. Mengenai kapan persisnya Awuwukha pernah hidup, telah terjadi silang pendapat. Menurut Sonjaya (2008:63), Awuwukha hidup sekitar 5 generasi (setiap generasi sama dengan 25 tahun) yang lalu. Sementara menurut Thomsen (dalam Zebua, 2008), Awuwukha hidup jauh lebih lama, yaitu sekitar 7 generasi yang lalu. Untuk membuktikan pendapat siapa yang lebih benar, menurut Zebua perlu dilakukan pembuktian triangulasi, mencari sumber pembanding lainnya yang dianggap lebih valid.
Sejenak kita lupakan dulu silang pendapat di atas, karena mengetahui siapa sosok yang dimaksud sebagai Awuwukha tidak kalah penting. Mengenai tradisi mangani binu yang identik dengan sosok Awuwukha, Sonjaya menceritakan faktor pencetus tradisi tersebut sebagai berikut:
“.....kira-kira pertengahan abad ke-19, di Börönadu hidup seorang manusia pemberani dan hebat karena kepiawaiannya dalam membunuh orang, bernama Awuwukha. Pada suatu hari, datanglah ke Börönadu seseorang dari Susua yang menyebarkan kabar bahwa di kampungnya akan diadakan sebuah pesta owasa yang cukup besar. Ia berjalan di tengah perkampungan sambil meneriakkan pengumuman tersebut dengan harapan akan banyak warga Börönadu yang datang ke pesta tersebut. Ketika melewati rumah Awuwukha, si pembawa kabar tersebut terhenti langkahnya karena ada teriakan seorang ibu yang cukup mengganggu dirinya. “Hey, lelaki yang kelihatan kemaluannya! Untuk apa teriak-teriak seperti itu?” teriak perempuan yang tiada lain adalah ibu Awuwukha. Bagi orang Nias, itu termasuk ungkapan yang sangat mengejek. Karuan saja si pembawa kabar tersebut marah dan memukulkan kemaluannya ke tiang rumah ibu Awuwukha hingga tiang rumah gempal. Orang itu melampiaskan kemarahannya dengan menunjukkan bahwa kemaluannya seharusnya tidak diejek. Setelah puas menunjukkan kejantanannya, ia pun kemudian pergi meninggalkan Börönadu.” (Sonjaya, 2008:63).
Selang beberapa hari kemudian, ternyata lelaki tersebut datang lagi ke Börönadu dengan serombongan orang untuk menuntaskan kemarahannya. Rumah Awuwukha dan tujuh rumah saudaranya kemudian dibakar rombongan orang tersebut, termasuk lumbung padi milik Laimba, tokoh adat masyarakat Börönadu. Awuwukha hanya bisa berdiri mematung-- terbelalak melihat kejadian tersebut. Sambil menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, di depan ibunya-- Awuwukha bersumpah akan menuntut balas dengan cara memenggal kepala orang-orang yang terlibat dalam pembakaran tersebut. Tanpa persetujuan ibunya dan Laimba, Awuwukha nekad pergi untuk menuntut balas ke Susua. Beberapa hari kemudian:
“......dengan langkah tenang Awuwukha pulang dengan membawa belasan kepala manusia di dalam karung yang kemudian ditunjukkannya pada Laimba. Ternyata Laimba tidak berkenan dengan hal itu. Ia sebenarnya menghendaki musuhnya dibawa hidup-hidup. Laimba sadar betul bahwa dengan kejadian tersebut pertumpahan darah pasti akan berlanjut.” (Sonjaya, 2008:65).
Dugaan Laimba terbukti. Penduduk Susua merencanakan pembunuhan terhadap Awuwukha, baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Tapi semuanya berujung pada kegagalan. Awuwukha terlampau kuat untuk dibunuh. Kehebatan Awuwukha kemudian tersiar sampai ke seluruh penjuru Nias. Kehebatannya kemudian dikukuhkan melalui upacara owasa, upacara tertinggi di masyarakat Nias. Jika seseorang telah menunaikan owasa, maka setiap perkataannya dengan sendirinya telah menjadi hukum. Sejak saat itu, setiap perkataan Awuwukha harus diikuti, bahkan sampai menjelang kematiannya.
Sebelum meninggal, Awuwukha berpesan kepada anak-anak dan seluruh anggota keluarganya. Jika ia meninggal nanti, ia ingin ditemani oleh lima orang yang akan melayaninya kelak di alam kubur: satu orang menyiapkan minum, satu orang menjaga, satu orang untuk menyiapkan makanan, satu orang membuat sirih pinang, dan satu orang sebagai tukang pijat (Sonjaya, 2008:67). Karena setiap perkataan Awuwukha adalah hukum, maka wajib bagi anak-anaknya untuk mencarikan lima kepala untuk menemani penguburan Awuwukha. Hal ini berarti anak-anak Awuwukha harus melakukan mangani binu, karena tak kuasa menolak wasiat leluhur. Sejak kematian Awuwukha, dugaan Laimba tidak hanya sekedar kekhawatiran, tapi seolah-olah telah menjelma menjadi sebuah kutukan. Sebab, mangani binu kemudian menjadi tradisi yang mengakar kuat di Nias. Ia tidak hanya diselenggarakan untuk menghormati dan menyenangkan leluhurnya saja, tetapi kemudian juga dipraktekkan untuk kepentingan-kepentingan lainnya, misalnya membangun omo sebua (rumah bangsawan Nias). Mengenai hal ini, Yupiter Bago (dalam Zebua, 2008) berkomentar:
“Produk budaya megalitik Nias justru lebih banyak ditopang oleh tradisi sawuyu dan binu, ketimbang tradisi gotong royong. Banyak omo sebua, misalnya, didirikan dengan tenaga sawuyu, menyembelih sawuyu, memenggal kepala `kepala tukang`-nya, bahkan menyajikan beberapa butir kepala (binu zimate) yang didapatkan lewat ekspedisi `moi badano` ke banua (kampung) lain.”
Bahkan, tradisi mangani binu juga berlaku bagi kaum lelaki yang akan meminang calon istrinya. Ia harus mempersembahkan kepala musuh kepada keluarga calon mempelai perempuan. Semakin banyak jumlah kepala yang ditunjukkan di depan calon mertua, maka semakin berharga lelaki tersebut. Bahkan, bukan hanya pelakunya saja yang layak bangga, tetapi juga leluhur-leluhurnya, karena dianggap telah berhasil melahirkan keturunan yang hebat (Hammerle, 200:15). Interkoneksi antara kewajiban memuliakan leluhur dan keinginan menyandang identitas sosial yang tinggi seolah-olah menjadi justifikasi bagi tradisi manguni binu di Nias.
Berbicara tentang tradisi mangani binu di Nias terasa belum lengkap jika tidak membahas sebuah ritual yang disebut famaoso dola, atau pengangkatan tulang-tulang kembali para leluhur. Upacara ini biasanya berlaku bagi kaum bangsawan. Kepala orang yang diambil waktu perburuan ditempatkan di atas kuburan bangsawan pada saat famaoso dola. Upacara ini menggambarkan pandangan eskatologis orang Nias. Ada keyakinan yang berkembang di Nias bahwa leluhur yang sudah mati itu akan bangkit kembali atau akan terjadi kelahiran kembali ketika kepala-kepala hasil buruan itu dipersembahkan (Zebua, 2008). Orang Nias meyakini bahwa roh para leluhur dapat mengendalikan alam dan kehidupan manusia. Dalam kebudayaan yang animistik, manusia selalu berusaha menjalin hubungan yang baik dengan para roh leluhur agar kehidupan dapat berjalan secara harmonis. Untuk menjalin hubungan itu, orang Nias mengenal larangan yang disepakati bersama, salah satunya tidak boleh menyebut nama leluhur secara sembarangan. Menurut aturan, jika nama leluhur hendak disebutkan, maka harus diberi persembahan terlebih dahulu, berupa makanan yang menjadi kesukaan roh yang bersangkutan (Sonjaya, 2008:75). Jika larangan tersebut dilanggar, maka orang yang melanggar biasanya akan mendapat celaka.
Namun, setelah ajaran Kristiani mulai menancapkan pengaruhnya di Nias sejak akhir abad ke19, ritual-ritual adat di Nias mulai ditinggalkan. Ajaran Kristen yang melarang antar sesama manusia saling membunuh, mengutuk tradisi pemujaan terhadap roh leluhur, melarang mendirikan menhir dan membuat patung untuk mengenang leluhur yang sudah meninggal, melarang pesta-pesta besar karena terlalu boros, membuat pengaruh adat pelan-pelan semakin berkurang. Namun, keberhasilan misi Kristiani di Nias juga banyak ditentukan oleh strategi yang cerdik dalam mengkonversi ritual-ritual adat sehingga makna ritual tersebut menjadi bergeser. Contohnya adalah diberlakukannya ritual fanano buno (menanam bunga) sebagai ganti ritual famaoso dalo (mengangkat kepala). Contoh lainnya adalah tradisi lompat batu di Nias. Menurut sejarahnya, tradisi lombat batu baru berkembang di Nias bersamaan dengan hadirnya para zendeling di pulau ini. Tradisi ini sengaja diciptakan untuk menghapus tradisi berburu kepala. Simbol kehebatan yang pada awalnya ditentukan oleh seberapa banyak jumlah kepala yang berhasil dipenggal berusaha diganti dengan kemampuan melompati batu yang tinggi (Zebua, 2008).
Bagi orang Nias yang meyakini iman Kristiani sebagai panduan hidupnya, tradisi leluhur di atas memang sudah sepatutnya ditinggalkan. Jika mengenang tradisi leluhurnya yang banyak menampilkan sisi gelap, orang Nias seolah-olah berjuang keras untuk melawan beban sejarah dan trauma yang mendalam. Hal ini terbaca ketika orang Nias saat ini memberikan komentar atas tradisi leluhurnya.
“Mengenai tradisi mangani binu dalam budaya megalitik Nias, saya anggap hanya untuk mengingatkan sejarah budaya dan penegasan bahwa hal itu tidak sesuai dengan era religi dan hak azasi manusia. Saya percaya tradisi mangani binu sudah lama lenyap di bumi Nias. Saudaraku, marilah kira berusaha dengan talenta kita masing-masing untuk mengangkat nilai-nilai luhur budaya ono niha yang bersemangat membangun bersama.” (Daeli dalam Zebua 2008).
Meskipun tradisi mangani binu sudah lama ditinggalkan oleh masyarakat Nias, pembunuhan dengan memenggal kepala masih kerap terjadi hingga sekarang. Sebagai sebuah tradisi, manangi binu memang telah dikutuk (terutama oleh agama baru), namun pengaruhnya masih sulit ditundukkan oleh orang Nias. Motifnya yang mulai bergeser, dari memenggal kepala berubah menjadi menusuk korbannya. Bayang-bayang emali (pemburu kepala) di masa lalu juga masih menghantui kehidupan kebanyakan orang Nias saat ini. Anak-anak kecil selalu dilarang bermain pada saat hari menjelang malam untuk menghindari emali. Hal ini juga bisa dilihat dari cara para lelaki dewasa di Nias ketika akan berpergian pada malam hari. Mereka selalu membawa senjata tajam untuk jaga diri. Jika pemenggalan kepala dalam tradisi mangani binu biasanya dilakukan oleh emali untuk bekal kubur, mas kawin, membangun rumah, dan alasan peperangan, pemenggalan kepala saat ini lebih banyak disebabkan oleh pertikaian dalam mempertahankan harga diri.
Sebagai penutup, sebuah kesaksian yang disampaikan oleh Sonjaya ketika melakukan penelitian di Nias cukup menarik untuk diketahui. Bukti bahwa pengaruh mangani binu belum hilang sepenuhnya dari kehidupan masyarakat Nias, hanya mengalami transformasi motif dan bentuknya saja.
“Hanya dalam dua tahun terakhir di kawasan Gomo telah terjadi 12 kali pembunuhan. Dalam minggu pertama di Börönadu, saya mendengar ada pemenggalan kepala di desa tetangga hanya gara-gara memperebutkan pohon rambutan. Setelah mencoba menggali informasi mengenai kejadian itu, ternyata pembunuhan itu lebih berlatar belakang perebutan harga diri ketimbang pohon rambutan itu sendiri. Dua tahun setelah kejadian itu saya kembali berkunjung ke Börönadu. Dua hari sebelum kedatangan saya, di Desa Umbunase, tidak jauh dari Börönadu, terjadi lagi pembunuhan. Korbannya mengalami 11 tusukan dan kepalanya dibelah. Motifnya belum diketahui, yang pasti bukan perampokan karena sejumlah uang di saku korban tidak hilang. Orang-orang di Desa Hiliana`a berseloroh bahwa motifnya hanya sekedar persaingan olah raga untuk menunjukkan siapa yang paling kuat satu sama lain.” (Sonjaya, 2008:71—72).
D. Penutup
Di atas telah dibahas tentang asal-usul lehuhur orang Nias berdasarkan sumber-sumber cerita lisan yang berkembang dalam kebudayaan Nias. Meskipun ketika disandingkan dengan temuan-temuan ilmiah—cerita-cerita lisan tersebut dalam derajat tertentu menunjukkan kebenaran (meski masih bersifat spekulatif)—namun jika kita berusaha lebih jauh memahami alam berpikir masyarakat Nias—berusaha melihatnya berdasarkan sudut pandang masyarakat Nias sendiri—hal itu tidaklah menjadi persoalan utamanya. Yang jauh lebih penting dalam konteks ini adalah bagaimana memahami posisi cerita-cerita lisan tersebut dalam konstelasi kehidupan masyarakat Nias secara menyeluruh, sehingga dapat diketahui peran dan fungsi cerita-cerita lisan tersebut dalam kehidupan masyarakat Nias.
Jika kita menggunakan tipologi ekspresi kebudayaan ala Van Peursen, kebudayaan Nias secara umum dapat dikategorikan sebagai kebudayaan yang bercorak mitis—atau setidaknya masih digerakkan oleh alam berpikir mitis. Hal ini ditandai dengan masih dominannya fungsi cerita-cerita lisan atau hoho dan masih dipraktekkannya tradisi-tradisi adat dalam kebudayaan sebagai media untuk memahami dunia secara lebih utuh. Namun, perlu ditegaskan di sini bahwa kebudayaan mitis tidak selalu dapat disejajarkan dengan kebudayaan primitif karena istilah “primitif” tidak relevan lagi dalam konteks kajian kebudayaan saat ini (karena berkonotasi mendiskreditkan). Dalam kacamata Van Peursen, dunia alam pikir kebudayaan mitis mengandung suatu filsafat yang dalam, gambaran yang ajaib dan adat istiadat yang beragam. Alam kebudayaan mitis lazim ditegakkan oleh cerita-cerita lisan atau mitos yang berfungsi sebagai pedoman dan arah tertentu untuk sekompok orang. Mitos biasanya diturunkan secara turun-temurun oleh generasi terdahulu yang bergulir dari jaman ke jaman (Van Peursen, 34—36).
Melalui mitos manusia mengambil bagian untuk berpartisipasi dalam dunia. Partisipasi manusia dalam alam pikiran mitis ini dilukiskan sederhana sebagai berikut: terdapat subjek, yaitu manusia (S) yang dilingkari oleh dunia, obyek (O). Tetapi subjek itu tidak bulat sehingga daya-daya kekuatan alam dapat menerobosnya. Manusia (S) itu terbuka dan dengan demikian berpartisipasi dengan daya-daya kekuatan alam (O). Partisipasi tersebut berarti bahwa manusia belum mempunyai identitas atau individualitas yang bulat, masih sangat terbuka dan belum merupakan suatu subjek yang berdikari sehingga dunia sekitarnya pun belum dapat disebut (O) yang sempurna dan utuh (Ibid, :38)
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mitos sedikitnya memiliki dua fungsi utama, yaitu: pertama, menyadarkan manusia bahwa ada kekuatan-kekuatan ajaib; kedua, memberi jaminan bagi masa kini bahwa usaha manusia dalam mengukir sejarah hidupnya akan terus terjadi dan akan ada keberhasilan yang terus berulang-ulang. Ringkasnya mitos berfungsi menampakkan kekuatan-kekuatan, menjamin hari ini, memberi pengetahuan tentang dunia bahwa manusia berada dalam lingkaran kekuatan alam. Di sinilah tampak kemudian geliat tarik menarik antara imanensi dan transendensi (Ibid, :38—40).
Terkait dengan fungsi mitos di atas, ada fungsi lainnya yang sebenarnya merupakan ekstraksi dari keduanya, yaitu fungsi merawat “yang tabu”. Dalam setiap kebudayaan yang bercorak mitis, kehidupan sosial dilimpahi dengan banyak tabu-tabu yang tidak boleh dilanggar. Jika manusia melanggarnya, maka alam akan mengerahkan kekuatannya untuk menghukum atau mencelakai manusia. Fungsi mitos sebagai perawat “yang tabu” ini terlihat dari bagaimana masyarakat Nias memaknai cerita lisan atau hoho tentang leluhur mereka. Dalam hoho dikisahkan bahwa leluhur orang Nias berasal dari langit. Dalam salah satu versi hoho yang disampaikan oleh Ama Watilina Hia, tokoh masyarakat Nias –konon telah terjadi pergumulan antara dua angin, yaitu angin Metakheyo Simane Loulou dan angin Hambula. Kedua angin itu saling berputar seperti dua pasang makhluk yang sedang bermain dan bersenda gurau. Seiring berjalannya waktu, hingga sembilan bulan, keluarlah tangisan dari bilik kamar –dan lahirlah seorang bayi (Ama Watilina Hia dalam Sonjaya, 2008:36-38). Jika dipahami secara maknawi, sebagaimana dijelaskan oleh dua pemerhati budaya Nias kenamaan, Johannes Hammerle dan Melkhior Duha (dalam Sonjaya, 2008:60), hoho tersebut sebenarnya merupakan cara masyarakat Nias untuk menjaga agar “yang tabu” tetap tidak dilanggar. Makna implisit yang terkandung dalam hoho tersebut sebenarnya hendak menjelaskan tentang proses perkawinan dan kelahiran seorang anak manusia di muka bumi. Pergumulan dua angin adalah simbol dari laki-laki dan perempuan yang sedang melakukan persetubuhan yang diikuti dengan kehamilan perempuan dan diakhiri dengan kelahiran seorang anak. Pergumulan dua angin adalah bahasa kias untuk menggambarkan persetubuhan yang sangat tabu dibicarakan di Nias. Jika persetubuhan dan kehamilan itu dibicarakan secara vulgar, masyarakat Nias meyakini bahwa alam akan mengirimkan hukuman kepada manusia. Tentang hal ini, Sonjaya memberikan ilustrasi menarik berdasarkan pengalamannya selama melakukan penelitian di Nias.
“....saya pernah malu ketika saya menanyakan kepada ibu muda perihal kehamilannya. Apa yang menurut saya pertanyaan wajar ternyata membuat malu bagi pasangan suami istri yang saya tanyai itu. Soal persetubuhan dan kehamilan adalah sesuatu yang tabu diceritakan oleh orang Nias. Kemudian yang membuat saya tambah malu dan merasa berdosa adalah ketika beberapa bulan kemudian mendengar kabar bahwa bayi tersebut tidak selamat saat dilahirkan. Saya hanya berharap semoga orang tuanya tidak menyalahkan saya karena bertanya sesuatu yang tabu pada mereka.” (Sonjaya, 2008:60).
Mengapa orang Nias mengambil angin untuk menggambarkan tentang persetubuhan? Menurut penuturan Ama Watilina Hia (dalam Sonjaya, 2008:61), orang Nias itu sama dengan orang Baduy, Dayak, Dani, Kubu, dan tempat-tempat lainnya di Nusantara, aktivitas perladangan dimulai dengan membakar hutan untuk lahan. Orang Nias mempunyai musim tertentu untuk membakar hutan, yaitu menjelang musim hujan di mana angin sedang bertiup kencang. Angin tersebut diharapkan dapat menerbangkan abu dan arang ke seluruh lahan pertanian sehingga tanah menjadi subur dan siap untuk ditanami. Sampai di sini kiranya dapat disimpulkan bahwa angin merupakan simbol kesuburan, kesuburan adalah simbol kehidupan, dan kehidupan adalah kelahiran itu sendiri. Menurut penafsiran Sonjaya (2008:61), mitos ini tidak hanya mengenai asal-usul, melainkan pula mengenai kosmologi. Persetubuhan manusia sebagai mikrokosmos disetarakan dengan kehidupan yang dibantu angin sebagai makrokosmos. Dengan demikian, masyarakat Nias memiliki perspektif kosmologi yang luhur di mana mereka selalu menjaga hubungan yang harmonis antara mikrokosmos (manusia) dengan makrokosmos (alam semesta).






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar